Standarisasi S1 Bagi Calon Anggota
Legislatif Pro
Standarisasi s1 bagi caleg dimana itu berketerkaitan
dengan sila ke 4 pancasila yaitu kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dimana jika caleg itu tidak
memenuhi standari s1 di takutkan tidak menguasai tugas apakah yang dikerjakan
di karenakan kurangnya pengetahuan tentang konstitusi di Indonesia sendiri.
Melalui standarisasi s-1 caleg, Parlemen akhirnya
memiliki anggota legislatif dengan standar kualitas yang seharusnya sama rata,
sehingga tidak menambah tugas untuk melakukan standarisasi pendidikan saat
mereka ada didalam parlemen itu sendiri. Sehingga hanya bagaimana selanjutnya
para anggota legislatif tersebut ditempatkan berdasarkan Hasil pileg
itu sendiri yang outputnya adalah anggota DPR, DPD dan MPR. Melalui
standar minimals-1, penempatan itu bukanlah hal yang sulit pada akhirnya dengan
mengetahui bagaimana kemampuan dan latar belakang pendidikan yang dimiliki
setiap anggota legislative sehingga menghasilkan para anggota parlemen yang
memiliki kinerja baik dan akan mempengaruhi kualitas hasil kerja para anggota
parlemen. Sehingga parlemen benar-benar focus dalam menjalankan kewajiban serta
kewenangan mereka yang akan memeberikan dampak baik yang secara langsung akan
dirasakan oleh masyarakat terhadap produk hukum yang berkualitas serta
bermanfaat seluas-luasnya demi mewujudkan kemajuan kesejahteraan umum. Dan pada
nyatanya, kewajiban pendidikan di Indonesia yang awalnya hanya 9 tahun sedang
dalam proses untuk ditingkatkan menjadi 12 tahun dan bahkan anggaran APBN dalam
bidang pendidikan tidak dikurangi, menunjukkan keseriusan Negara dalam
mengelola pendidikan di Indonesia, sehingga ditingkatkannya wajib belajar bagi
rakyat Indonesia, harus diikuti dengan dinaikkannya pula standar pendidikan
bagi caleg.
Menurut Amien Rais, standar sarjana untuk
capres-cawapres relevan dan rasional. Tinggi rendahnya kualitas pendidikan
seorang pemimpin akan berimpilikasi kepada aspek kewibawaan pemimpin tersebut.
Standar kesarjanaan itu, setidaknya bisa membuat seorang pemimpin berpola pikir
rasional dan mampu mengambil kebijakan yang sistematis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
berkomentarlah layaknya manusia